Jaringan Epidermis

Friday, October 18th, 2013 - Biologi, Biologi SMA Kelas 11

Biologi Kelas XI : Jaringan Epidermis pada Tumbuhan

By Wawang Armansyah

Jaringan epdermis merupakan jaringan paling luar yang menutup permukaan organ tumbuhan, seperti daun, bagian bunga, buah dan biji, serta batang dan akar sebelum mengalami penebalan sekunder. Jaringan epidermis berfungsi sebagai pelindung jaringan yang ada di bagian sebelah dalamnya. Bentuk, ukuran, susunan dan fungsi sel epidermis berbeda-beda pada berbagai jenis organ tumbuhan.

Jaringan Epidermis

Jaringan Epidermis

Jaringan Epidermis

Ciri-ciri khas dari sel-sel epidermis adalah :

  1. Sel-selnya hidup, biasanya terdiri dari satu lapis sel tunggal
  2. Sel-sel rapat satu sama lain membentuk bangunan padat tanpa ruang antar sel.
  3. Memiliki beragam bentuk, ukuran dan susunannya
  4. Tidak memiliki klorofil
  5. Dinding sel ada yang tipis, ada yang mengalami penebalan di bagian yang menghadap ke permukaan dan ada pula yang semua sisi dindingnya tebal berlignin.

Beberapa bentuk khusus sel epidermis yang terdiferensiasi struktur dan fungsinya (derivat atau turunanannya) antara lain:

a. Stomata (mulut daun) yang berfungsi sebagai tempat pertukaran gas (O2,CO2, dan uap air/H2O). Stomata berupa ruang antar sel yang dibatasi oleh dua sel khas yan disebut sel penjaga. Sel penjaga dan lubang tersebut bersama-sama membentuk stomata.

Pada banyak tumbuhan dapat dibedakan yaitu sel pelengkap, yang merupakan dua atau lebih sel khas yang membatasi sel penjaga. Sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penjaga yang mengatur lebar stomata. Letak stomata kebanyakan di permukaan bawah daun.Tipe utama stomata pada Dicotyledonae berdasarkan susunan sel epidermis yang berdekatan dengan sel penjaga, antara lain:

  1. Tipe anomositik (ranunculaceous), yaitu sel penjaganya dikelilingi oleh sejumlah sel tertentu yang tidak berbeda dengan sel epidermis yang lain dalam bentuk maupun ukuran. Tipe ini umum pada Ranunculaceae, Geraniaceae, Capparidaceae, Cucurbitaceae, Malvaceae, Scrophulariaceae, Tamaricaceae, dan Pavaveraceae.
  2. Tipe anisositik (cruciferous), yaitu setiap sel penjaga dikelilingi oleh tiga sel tetangga yang ukurannya tidak sama. Tipe ini umum pada Cruciferae, pada Nicotiana, Solanum, Sedum dan lainnya.
  3. Tipe parasitik (rubiaceous), yaitu setiap sel penjaga bergabung dengan satu atau lebih sel tetangga, sumbu membujurnya sejajar dengan sumbu sel penjaga dan apertur. Tipe ini pada Rubiaceae, Magnoliaceae, sebagian besar spesies Concovulaceae, dan Mimosaceae, beberapa genus dari Papilonaceae seperti Ononis, Arachis, Phaseolus, dan Psoralea, dan lainnya.
  4. Tipe diasitik (caryophyllaceous), yaitu setiap stoma dikelilingi dua sel tetangga, umumnya dinding selnya itu membuat sudut siku-siku terhadap sumbu membujur dtoma. Tipe ini umumnya pada Caryophyllaceae, Acanthaceae dan lain-lain.
  5. Tipe aktinositik, yaitu stomata dikelilingi oleh lingkaran sel yang menyebar dalam radius.

b. Trikoma, tonjolan epidermis dan tersusun atas beberapa sel yang mengalami penebalan sekunder. Trikoma berperan sebagai kelenjar yang mengeluarkan zat seperti terpen, garam dan gula. Rambut akar juga merupakan bentuk lain dari trikoma yang memiliki dinding sel tipis dengan vakuola yang besar. Fungsi lain trikoma antara lain:

  1. Mengurangi penguapan (pada epidermis daun),
  2. Meneruskan rangsang,
  3. Melindungi tumbuhan dari gangguan hewan,
  4. Membantu penyebaran biji, dan
  5. Sebagai penghasil nektar

c. Lentisel berfungsi seperti stomata yaitu sebagai tempat keluar masuknya gas-gas ke dalam tumbuhan yang terdapat pada batang.

d. Velamen merupakan lapisan sel mati di bagian dalam jaringan epidermis pada akar gantung (akar udara) tumbuhan anggrek dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan air.

e. Sel kipas tersusun dari beberapa sel berdinding tipis dengan ukuran lebih besar dibandingkan sel-sel epidermis di sekitarnya. Bila terjadi penguapan air yang relatif besar, sel kipas akan menggulung sehingga daun akan menggulung untuk mengurangi penguapan yang lebih lanjut. Sel kipas dapat dijumpai pada epidermis atas daun familia Gramineae dan Cypereae.

f. Sel silica/sel gabus, sel epidermis seperti serat pada Pteridophita tertentu, Gymnospermae, dan beberapa Gramineae, dan Dicotyledonae tertentu. Pada Gramineae diantara sel epidermis batang ada yang panjang ada 2 tipe sel pendek, yaitu sel silika dan sel gabus.

Sel silika berkembang penuh berisi badan silika yang merupakan massa isotrop dengan silika di bagian pusat yang berupa bulatan kecil. Pada penampang melintang, badan silika ada yang tampak bundar, elips, seperti halter, atau seperti pelana. Dinding sel gabus mengandung zat gabus (suberin) dan banyak berisi bahan organik pada. Di atas sel pendek seringkali terdapat papila, duri, atau rambut.

Sel bagus kebanyakan pada kebanyakan tumbuhan berisi badan silika, dan pada rerumputan tertentu, badan silika juga terdapat pada beberapa sel panjang. Badan silika juga terdapat dalam sel epidermis khusus dari Cypereae dan beberapa Monocotyledonae.

g. Litokis, sel yang mengandung sistolit. Litosis terpadat pada erpidermis daun beringin (Ficus sp.) berupa penebalan ke arah sentripetal yang tersusun atas tangkai selulosa dengan deposisi Ca-karbonat (kalsium karbonat) yang membentuk bangunan seperti sarang lebah yang disebut sistolit.

Demikian penjelasan tentang jaringan meristem, semoga bermanfaat. Baca juga materi biologi tentang jaringan parenkim dan organel sel.

Kata Kunci:

fungsi sistholit dan lithosit,gambar litosit tumbuhan,pengertian sistolit,sel litosis dan sistolit pada ficus sp,sistolit dan litosis
Jaringan Epidermis | Wawang Armansyah | 4.5