Gejala Penyakit Jantung Koroner

Tuesday, January 14th, 2014 - Biologi

Jantung Koroner – Jantung koroner adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh adanya penyempitan dan penyumbatan arteri koronaria yang mengalirkan darah ke otot jantung. (Dinie, 2008).

Jantung Koroner

Jantung Koroner

Faktor Utama Penyebab Penyakit Jantung Koroner

Beberapa faktor yang dapat menimbulkan jantung koroner:

1. Hipertensi

Merupakan salah satu faktor resiko utama penyebab terjadinya penyakit Jantung Koroner. Perubahan hipertensi khususnya pada jantung disebabkan karena :

  • Meningkatnya tekanan darah.

Peningkatan tekanan darah merupakan beban yang berat untuk jantung, sehingga menyebabkan hipertropi ventrikel kiri atau pembesaran ventrikel kiri (faktor miokard). Keadaan ini tergantung dari berat dan lamanya hipertensi.

  • Mempercepat timbulnya arterosklerosis.

Tekanan darah yang tinggi dan menetap akan menimbulkan trauma langsung terhadap dinding pembuluh darah arteri koronaria, sehingga memudahkan terjadinya arterosklerosis koroner (faktor jantung koroner). Hal ini menyebabkan angina pektoris, Insufisiensi koroner dan miokard infark lebih sering didapatkan pada penderita hipertensi dibanding orang normal.

2. Hiperkolesterolemia

Hiperkolesterolemia merupakan masalah yang cukup panting karena termasuk faktor resiko utama penyakit jantung koroner di samping Hipertensi dan merokok. Kadar Kolesterol darah dipengaruhi oleh susunan makanan sehari-hari yang masuk dalam tubuh.

Beberapa parameter yang dipakai untuk mengetahui adanya resiko penyakit jantung koroner dan hubungannya dengan kadar kolesterol darah:

  • Kolesterol Total.

Kadar kolesterol total yang sebaiknya adalah ( 200 mg/dl, bila > 200 mg/dl berarti resiko untuk terjadinya penyakit jantung koroner meningkat.

  • LDL Kolesterol.

LDL (Low Density Lipoprotein) kontrol merupakan jenis kolesterol yang bersifat buruk atau merugikan (bad cholesterol), karena kadar LDL yang meninggi akan rnenyebabkan penebalan dinding pembuluh darah. Kadar LDL kolesterol lebih tepat sebagai penunjuk untuk mengetahui resiko penyakit jantung koroner dari pada kolesterol total.

  • HDL Koleserol

HDL (High Density Lipoprotein) kolesterol merupakan jenis kolesterol yang bersifat baik atau menguntungkan (good cholesterol), karena mengangkut kolesterol dari pembuluh darah kembali ke hati untuk di buang sehingga mencegah penebalan dinding pembuluh darah atau mencegah terjadinya proses arterosklerosis.

  • Rasio Kolesterol Total HDL Kolesterol

Rasio kolesterol total: HDL kolesterol sebaiknya (4.5 pada laki-laki dan 4.0 pada perempuan). makin tinggi rasio kolesterol total HDL kolesterol makin meningkat resiko penyakit jantung koroner.

  • Kadar Trigliserida.

Trigliserid didalam yang terdiri dari 3 jenis lemak yaitu Lemak jenuh, Lemak tidak tunggal dan Lemak jenuh ganda. Kadar triglisarid yang tinggi merupakan faktor resiko untuk terjadinya penyakit jantung koroner.

3. Merokok

Pada saat ini merokok telah dimasukkan sebagai salah satu faktor resiko utama penyakit Jantung Koroner disamping hipertensi dan hiperkolesterolami. orang yang merokok > 20 batang perhari dapat mempengaruhi atau memperkuat efek dua faktor utama resiko lainnya.

Faktor Resiko Jantung Koroner Lain

1. Umur

Telah dibuktikan adanya hubungan antara umur dan kematian akibat penyakit jantung koroner. Sebagian besar kasus kematian terjadi pada laki-laki umur 35-44 tahun dan meningkat dengan bertambahnya umur. Kadar kolesterol pada laki-laki dan perempuan mulai meningkat umur 20 tahun. Pada laki-laki kolesterol meningkat sampai umur 50 tahun. Pada perempuan sebelum menopause (45-0 tahun) lebih rendah dari pada laki-laki dengan umur yang sama. Setelah menopause kadar kolesterol perempuan meningkat menjadi lebih tinggi dari pada laki-laki.

2. Jenis kelamin

Di Amerika Serikat gejala penyakit jantung koroner sebelum umur 60 tahun didapatkan pada 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 17 perempuan . Ini berarti bahwa laki-laki mempunyai resiko penyakit jantung koroner 2-3 X lebih besar dari perempuan.

3. Geografis

Resiko penyakit jantung koroner pada orang Jepang masih tetap merupakan salah satu yang paling rendah di dunia. Akan tetapi ternyata resiko penyakit jantung koroner yang meningkat pada orang jepang yang melakukan imigrasi ke Hawai dan Califfornia . Hal ini menunjukkan faktor lingkungan lebih besar pengaruhnya dari pada genetik.

4. Ras

Perbedaan resiko penyakit jantung koroner antara ras didapatkan sangat menyolok, walaupun bercampur baur dengan faktor geografis, sosial dan ekonomi . Di Amerika serikat perbedaan ras perbedaan antara ras caucasia dengan non caucasia ( tidak termasuk Negro) didapatkan resiko penyakit jantung koroner pada non caucasia kira-kira separuhnya.

5. Diet

Didapatkan hubungan antara kolesterol darah dengan jumlah lemak di dalam susunan makanan sehari-hari (diet). Makanan orang Amerika rata-rata mengandung lemak dan kolesterol yang tinggi sehingga kadar kolesterol cendrung tinggi. Sedangkan orang Jepang umumnya berupa nasi dan sayur-sayuran dan ikan sehingga orang jepang rata-rata kadar kolesterol rendah dan didapatkan resiko penyakit jantung koroner yang lebih rendah dari pada Amerika.

Beberapa petunjuk diet untuk menurunkan kolesterol :

  • Makanan harus mengandung rendah lemak terutama kadar lemak jenuh tinggi.
  • Mengganti susunan makanan dengan yang mengandung lemak tak jenuh.
  • Makanan harus mengandung rendah kolesterol.
  • Memilih makanan yang tinggi karbohidrat atau banyak tepung dan Berserat
  • Makanan mengandung sedikit kalori bila berat badan akan diturunkan padta obesitas dan memperbanyak exercise.

6. Obesitas

Obesitas adalah kelebihan jumlah lemak tubuh > 19 % pada lakilaki dan > 21 % pada perempuan. Obesitas sering didapatkan bersama-sama dengan hipertensi, DM, dan hipertrigliseridemi. Obesitas juga dapat meningkatkan kadar kolesterol dan LDL kolesterol . Resiko penyakit jantung koroner akan jelas meningkat bila BB mulai melebihi 20 % dari BB ideal. penderita yang gemuk dengan kadar kolesterol yang tinggi dapat menurunkan kolesterolnya dengan mengurangi berat badan melalui diet ataupun menambah exercise.

7. Diabetes

Intoleransi terhadap glukosa sejak dulu telah diketahui sebagai predisposisi penyakit pembuluh darah. Penelitian menunjukkan laki-laki yang menderita DM resiko penyakit jantung koroner 50 % lebih tinggi daripada orang normal, sedangkan pada perempuaan resikonya menjadi 2x lipat.

8. Exercise

Exercise dapat meningkatkan kadar HDL kolesterol dan memperbaiki kolaterol koroner sehingga resiko penyakit jantung koroner dapat dikurangi. Exercise bermanfaat karena :

  • Memperbaiki fungsi paru dan pemberian 02 ke miokard
  • Menurunkan BB sehingga lemak tubuh yang berlebihan berkurang bersama-sama dengan menurunkan LDL kolesterol.
  • Membantu menurunkan tekanan darah
  • Meningkatkan kesegaran jasmani.

9. Perilaku dan Kebiasaan lainnya

Dua macam perilaku seseorang telah dijelaskan sejak tahun 1950 yaitu Tipe A dan Tipe B. Tipe A umumnya berupaya kuat untuk berhasil, gemar berkompetisi, agresif, ambisi, ingin cepat dapat menyelesaikan pekerjaan dan tidak sabar.Sedangkan tipe B lebih santai dan tidak terikat waktu. Resiko penyakit jantung koroner pada tipe A lebih besar daripada tipe B.

10. Perubahan Keadaan Sosial Dan stress

Perubahan angka kematian yang menyolok terjadi di Inggris dan Wallas . Korban serangan jantung terutama terjadi pada pusat kesibukan yang banyak mendapat stress. Penelitian Supargo dkk (1981-1985) di FKUI menunjukkan orang yang stress 1 1/2 X lebih besar mendapatkan resiko penyakit jantung koroner stress disamping dapat menaikkan tekanan darah juga dapat meningkatkan kadar kolesterol darah.

11. Keturunan

Hipertensi dan hiperkolesterolemi dipengaruhi juga oleh faktor genetik.

12. Perubahan Massa – Jantung Koroner

Setelah pengumpulan data yang akurat selama puluhan tahun berbagai Negara didapatkan perubahan angka kematian yang menarik. Alasan terjadinya penurunan di Amerika Serikat belum jelas, mungkin disebabkan karena insiden kasus baru yang menurun dan menurunnya kasus-kasus yang berat maupun hasil dari pengobatan penyakit jantung koroner yang lebih baik.

Oleh: T. Bahri Anwar Djohan (Ahli Penyakit Jantung  Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara)

Demikian penjelasan kami mengenai Jantung Koroner, semoga bermanfaat. Baca juga penjelasan mengenai Batu Ginjal dan Jaringan Meristem.

Gejala Penyakit Jantung Koroner | Wawang Armansyah | 4.5