Asal Usul Mahluk Hidup

Friday, January 23rd, 2015 - Biologi

Asal Usul Mahluk HidupAsal usul mahluk hidup terdiri dari dua paham yakni paham abiogenesis dan paham biogenesis. Paham tentang asal usul makhluk hidup ini dikemukakan oleh dua kelompok ilmuwan yang berbeda. Berikut penjelasan kedua paham tersebut.

Asal Usul Mahluk Hidup

Asal Usul Mahluk Hidup

1. Paham Abiogenesis [Asal Usul Mahluk Hidup]

Paham atau teori abiogenesis ini disebut juga paham Generation Spontaneae. Para ilmuwan pendukung paham abiogenesis menyatakan bahwa asal usul makhluk hidup yang pertama kali di bumi tersebut dari benda mati / tak hidup yang terkjadinya secara spontan, misalnya Ikan dan katak berasal dari lumpur, Cacing berasal dari tanah, dan Belatung berasal dari daging yang membusuk.

Tokoh paham abiogenesis adalah seorang filosif Yunani bernama Aristoteles (384-322 SM). Sebenarnya Aristoteles mengetahui bahwa telur-telur ikan apabila menetas akan menjadi ikan yang sifatnya sama seperti induknya. Telur-telur tersebut merupakan hasil perkawinan dari induk-induk ikan. Walau demikian, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada ikan yang berasal dari Lumpur.

2. Paham Biogenesis pada Asal Usul Makhluk Hidup

Para ilmuwan yang dikenal dengan paham abiogenesis menyatakan bahwa asal usul makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya. Tokoh yang merintis paham biogenesis adalah ilmuwan Itaalia bernama Fransisco Redi (1626-1799). Fransisco Redi, berdasarkan hasil percobaannya, berpendapat bahwa belatung yang terdapat pada daging busuk bukan berasal dari daging, tetapi berasal dari telur lalat yang ada pada daging. Percobaan ini kemudian disempurnakan oleh Lazzaro Spallanzani (Italia, 1729-1799), dan Louis Pasteur (Prancis, 1822-1895).

a. Percobaan Francesco Redi ( 1626-1697)

Untuk menjawab keragu-raguannya terhadap paham abiogenesis, Francesco Redi mengadakan percobaan. Pada percobaannya Redi menggunakan bahan tiga kerat daging dan tiga toples. Percobaan Redi selengkapnya adalah sebagai berikut:

  • Stoples I  : diisi dengan sekerat daging, ditutup rapat-rapat.
  • Stoples II : diisi dengan sekerat daging, dan dibiarkan tetap terbuka.
  • Stoples III : disi dengan sekerat daging, dibiarkan tetap terbuka.
Gambaran Percobaan Francesco Redi

Gambaran Percobaan Francesco Redi

Selanjutnya ketiga stoples tersebut diletakkan pada tempat yang aman. Setelah beberapa hari, keadaan daging dalam ketiga stoples tersebut diamati. Dan hasilnya sebagai berikut:

  • Stoples I : daging tidak busuk dan pada daging ini tidak ditemukan jentik / larva atau belatung lalat.
  • Stoples II : daging tampak membusuk dan didalamnya ditemukan banyak larva atau belatung lalat.

Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Francesco redi menyimpulkan bahwa larva atau belatung yang terdapat dalam daging busuk di stoples II dan III bukan terbentuk dari daging yang membusuk, tetapi berasal dari telur lalat yang ditinggal pada daging ini ketika lalat tersebut hinggap disitu. Hal ini akan lebih jelas lagi, apabila melihat keadaan pada stoples II, yang tertutup kain kasa. Pada kain kasa penutupnya ditemukan lebih banyak belatung, tetapi pada dagingnya yang membusuk belatung relative sedikit.

b. Percobaan Lazzaro Spallanzani (1729-1799)

Spallanzani mengadakan percobaan yang pada prinsipnya sama dengan percobaan Francesco Redi, tetapi langkah percobaan Spallanzani lebih sempurna. Sebagai bahan percobaannya, Spallanzani menggunakan air kaldu atau air rebusan daging dan dua buah labu. Percoban yang dilakukan Spallanzani adalah sebagai berikut:

  • Labu I : diisi air 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan 15oC selama beberapa menit dan dibiarkan tetap terbuka.
  • Labu II : diisi 70 cc air kaldu, ditutup rapat-rapat dengan sumbat gabus. Pada daerah pertemuan antara gabus dengan mulut labu diolesi paraffin cair agar rapat benar. Selanjutnya, labu dipanaskan.
  • Selanjutnya Labu I dan II didinginkan. Setelah dingin keduanya diletakkan pada tempat terbuka yang bebas dari gangguan hewan dan orang. Setelah lebih kurang satu minggu, diadakan pengamatan terhadap keadaan air kaldu pada kedua labu tersebut.
Gambaran Percobaan Lazzaro Spallanzani

Gambaran Percobaan Lazzaro Spallanzani

Hasil percobaannya adalah sebagai berikut :

  • Labu I : air kaldu mengalami perubahan, yaitu airnya menjadi bertambah keruh dan baunya menjadi
  • tidak enak. Setelah diteliti ternyata air kaldu pada labu I ini banyak mengandung mikroba.
  • Labu II : air kaldu labu ini tidak mengalami perubahan, artinya tetap jernih seperti semula baunya juga tetap serta tidak mengandung mikroba. Tetapi, apabila labu ini dibiarkan terbuka lebih lama lagi, ternyata juga banyak mengandung mikroba, airnya berubah menjadi lebih keruh serta baunya tidak enak (busuk).

Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Lazzaro Spallanzani menyimpulkan bahwa mikroba yang ada didalam kaldu tersebut bukan berasal dari air kaldu (benda mati), tetapi berasal dari kehidupan di udara. Jadi, adanya pembusukan karena telah terjadi kontaminasi mikroba dari udara ke dalam air kaldu tersebut.

c. Percobaan Louis Pasteur (1822-1895)

Pasteur melaksanakan percobaan untuk menyempurnakan percobaan Lazzaro Spallanzani. Dalam percobaanya, Pasteur menggunakan bahan air kaldu dengan alat labu. Langkah-langkah percobaan Pasteur dalam membuktikan asal usul makhluk hidup adalah sebagai berikut:

Gambaran Percobaan Louis Pasteur

Gambaran Percobaan Louis Pasteur

  • Langkah I : labu disi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat-rapat dengan gabus. Celah antara gabus dengan mulut labu diolesi dengan paraffin cair. Setelah itu pada gabus tersebut dipasang pipa kaca berbentuk leher angsa. Lalu labu dipanaskan atau disterilkan.
  • Langkah II : selanjutnya labu didinginkan dan diletakkan ditempat yang aman.  Setelah beberapa hari, keadaan air kaldu diamati. Ternyata air kaldu tersebut tetep jernih dan tidak mengandung mikroorganisme.
  • Langkah III : labu yang air kaldu didalamnya tetap jernih dimiringkan sampai air kaldu didalamnya mengalir kepermukaan pipa hingga bersentuhan dengan udara. Setelah itu labu diletakkan kembali pada tempat yang aman selama beberapa hari. Kemudian keadaan air kaldu diamati lagi. Ternyata air kaldu didalam labu meanjadi busuk dan banyak mengandung mikroorganisme.

Melalui pemanasan terhadap perangkat percobaanya, seluruh mikroorganisme yang terdapat dalam air kaldu akan mati. Disamping itu, akibat lain dari pemanasan adalah terbentuknya uap air pada pipa kaca berbentuk leher angsa. Apabila perangkat percobaan tersebut didinginkan, maka air pada pipa akan mengembun dan menutup lubang pipa tepat pada bagian yang berbentuk leher. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya mikroorganisme yang bergentayangan diudara untuk masuk kedalam labu. Inilah yang menyebabkan tetap jernihnya air kaldu pada labu tadi.

Pada saat sebelum pemanasan, udara bebas tetap dapat berhubungan dengan ruangan dalam labu.

Mikroorganisme yang masuk bersama udara akan mati pada saat pemanasan air kaldu. Setelah labu dimiringkan hingga air kaldu sampai ke permukan pipa, air kaldu itu akan bersentuhan dengan udara bebas. Disini terjadilah kontaminasi mikroorganisme. Ketika labu dikembalikan keposisi semula (tegak), mikroorganisme tadi ikut terbawa masuk. Sehingga, setelah labu dibiarkan beberapa beberapa waktu air kaldu menjadi akeruh, karena adanya pembusukan oleh mikrooranisme tersebut.

Dengan demikian terbuktilah ketidak benaran paham Abiogenesis atau generation spontanea, yang menyatakan bahwa asal usul makhluk hidup berasal dari benda mati yang terjadi secara spontan. Berdasarkan hasil percobaan Spallanzani dan Pasteur tersebut, maka tumbanglah paham Abiogenesis, dan munculah paham/teori baru tentang asal usul makhluk hidup yang dikenal dengan teori Biogenesis. Teori itu menyatakan:

  • Omne vivum ex ovo = setiap makkhluk hidup berasal dari telur.
  • Omne ovum ex vivo = setiap telur berasal dari makhluk hidup, dan
  • Omne vivum ex vivo = setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya.

Walaupun Louis Pasteur dengan percobaannya telah berhasil menumbangkan paham Abiogenesis atau generation spontanea dan sekaligus mengukuhkan paham Biogenesis.

Berbagai teori asal usul makhluk hidup telah disusun oleh para pakar tetapi belum ada satupun teori yang diterima secara memuaskan oleh semua pihak. Teori tentang asal usul kehidupan yang pernah disusun oleh para ahli di antaranya:

  1. Kehidupan diciptakan oleh zat supranatural (ghalib) pada saat istimewa (teori kreasi khas)
  2. Kehidupan muncul dari benda tak hidup pada berbagai kesempatan (teori generatio spontanea)
  3. Kehidupan tidakberasal usul (keadaan mantap) 
  4. Kehidupan datang di planet ini dari mana saja (teori kosmozoan)
  5. Kehidupan muncul berdasar hukum fisika-kimia (evolusi biokimia)

Demikian penjelasan yang cukup lengkap mengenai Asal Usul Makhluk Hidup, semoga bermanfaat.

(Baca: Tujuan Klasifikasi Makhluk Hidup, Keanekaragaman Makhluk Hidup, dan Pengertian Hutan).

Kata Kunci:

asal muasal mahluk hidup,asal mula makhluk hidup,asal mula makluk hidup,asal usul mahluk hidup,asal usul makhluk
Asal Usul Mahluk Hidup | Wawang Armansyah | 4.5