Perbedaan Lahan Potensial dengan Lahan Kritis

Friday, August 14th, 2015 - Geografi

Perbedaan Lahan Potensial dengan Lahan Kritis – Kategori pemanfaatan lahan pastinya tidak lepas dari lahan potensial dengan lahan kritis. Berikut ini BelajarBagus.net Akan sedikit berbagi penjelasan mengenai perbedaan lahan potensial dengan lahan kritis. Berikut penjelasan perbedaan keduanya:

Lahan Potensial – Perbedaan Lahan Potensial dengan Lahan Kritis

Lahan potensial merupakan lahan subur yang sebenarnya dapat dimanfaatkan, tetapi belum dimanfaatkan atau belum diolah, padahal jika diolah akan memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Selain itu, juga mempunyai daya dukung terhadap kebutuhan manusia. Dari keadaan tersebut dapat diartikan bahwa lahan potensial merupakan aset yang dapat digunakan sebagai modal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Lahan Potensial

Lahan Potensial

Untuk itu, harus ditangani dan dikelola secara bijaksana. Di luar Pulau Jawa masih banyak lahan produktif dan potensial yang belum tergarap, daerah ini sering disebut sebagai lahan tidur. Kebutuhan pangan yang semakin meningkat, memaksa manusia untuk mencari lahan-lahan pertanian baru, tempat mereka mengubah hutan menjadi ladang pertanian, dan tuntutan kebutuhan perumahan memaksa mereka untuk mengubah lahan pertanian tersebut menjadi areal permukiman penduduk.

Namun, jika program untuk meningkatkan produksi pangan dan perluasan permukiman dalam skala besar-besaran tidak diatur secara tegas dapat menyebabkan meningkatnya erosi, berkurangnya kesuburan dan produktivitas lahan, dan hilangnya habitat. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dengan menetapkan kawasan cagar alam dan taman nasional, tetapi tetap saja sejumlah besar lahan dirusak oleh para penebang liar.

Lahan potensial tersebar di tiga wilayah utama daratan, yaitu di daerah pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi. Lahan-lahan di wilayah pantai didominasi oleh tanah aluvial (tanah hasil pengendapan).  Wilayah dataran rendah dihitung mulai dari dataran pantai sampai ketinggian 300 m dpl. Pada curah hujan yang sesuai dengan kawasan ini merupakan daerah subur seperti pada dataran aluvial. Wilayah dataran tinggi dihitung mulai dari ketinggian 500 m dpl sampai ke atas merupakan wilayah yang berkontur, berbukit-bukit sampai daerah pegunungan. Bagi daerah-daerah tanah tinggi yang dipengaruhi oleh gunung api, kondisi lahannya didominasi oleh tanah vulkanik yang subur yang kandungan mineral haranya cukup tinggi.

Meskipun daerahnya subur, daerah pegunungan merupakan daerah yang berisiko tinggi untuk terjadinya erosi tanah dan tanah longsor. Pengaruh erosi, di daerah-daerah yang memiliki curah hujan tinggi keadaan tanahnya biasanya berwarna merah kecokelatan (pucat), karena unsur-unsur hara dan humusnya banyak tercuci dan terhanyutkan oleh air hujan. Jenis tanah ini kurang subur. Contoh tanah yang sudah banyak mengalami pencucian di antaranya tanah latosol dan tanah podzolik serta tanah laterit.

Usaha pelestarian dan peningkatan kegunaan lahan-lahan potensial, antara lain:

  • Dilakukan dengan cara membuat perencanaan penggunaan lahan.
  • Menciptakan keserasian dan keseimbangan fungsi lahan.
  • Mengintensifkan penggunaan lahan dalam waktu tertentu.
  • Pembuatan perencanaan pembangunan tata lahan untuk menghindari pencemaran.
  • Penggunaan lahan seoptimal mungkin untuk kepentingan rakya.
  • Adanya pemisahan penggunaan lahan untuk permukiman, industri, perkantoran, maupun pertanian.
  • Pembuatan peraturan atau UU pengalihan hak atas tanah untuk kepentingan umum peraturan perpajakan.

Adanya kajian yang berhubungan dengan kebijakan tata ruang, perizinan atau pajak untuk memberikan tambahan wawasan bagi masyarakat tentang konservasi lahan, adanya perhatian terhadap teknologi pengolahan tanah, penghijauan (reboisasi), dan pembuatan sengkedan terutama di daerah-daerah pegunungan, penanaman lahan di permukiman penduduk agar mempunyai ladang yang tetap dan tidak berpindah-pindah, pengelolaan daerah DAS di sepanjang aliran sungai.

Lahan Kritis

Lahan kritis sering disebut dengan lahan yang tidak produktif karena meski sudah dikelola tetap saja produktivitas lahannya rendah. Jika ditanami pun hasilnya akan lebih kecil daripada modal yang dikeluarkan. Keadaan tersebut membuat petani enggan mengusahakan tanah-tanah di lahan kritis tersebut. Biasanya lahan kritis ini merupakan lahan tandus, gundul, dan tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian karena tingkat kesuburannya sangat rendah.

Lahan Kritis

Lahan Kritis

Lahan kritis dapat terbentuk karena beberapa faktor, antara lain, adanya kekeringan, genangan air secara terusmenerus seperti di daerah pantai dan rawa, terjadinya erosi tanah dan masswasting di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan daerah yang miring, adanya kesalahan dalam pengelolaan lahan yang kurang memerhatikan aspekaspek kelestarian lingkungan, masuknya material yang dapat bertahan lama ke lahan pertanian yang tak dapat diuraikan oleh bakteri seperti plastik yang dapat bertahan selama ± 200 tahun di dalam tanah, adanya pembekuan air di daerah kutub atau pegunungan tinggi, serta adanya pencemaran zat seperti pestisida dan limbah pabrik yang masuk ke lahan pertanian.

Perbaikan terhadap lahan kritis perlu dilakukan karena jika lahan kritis dibiarkan dan tidak ada perlakuan perbaikan, secara langsung atau tidak dapat mengganggu kehidupan manusia. Oleh karena itu, perlu adanya usaha-usaha perbaikan lahan kritis. Untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan oleh adanya lahan kritis tersebut, pemerintah Indonesia telah mengambil kebijakan, yaitu melakukan rehabilitasi dan konservasi lahanlahan kritis di Indonesia.

Sekian penjelasan mengenai Perbedaan Lahan Potensial dengan Lahan Kritis, semoga bermanfaat bagi sahabat terlebih kepada penulis sendiri.

Baca juga Pengertian Litosfer, dan Teori Pembentukan Bumi.

Kata Kunci:

lahan potensial adalah,lahan potensial,contoh lahan kritis,jelaskan fungsi lahan potensial,tanah potensial dan tanah kritis,perbedaan lahan potensial dan lahan kritis,Pengertian Lahan potensial dan lahan kritis,perbedaan Daerah dengan Lahan,perbedaan lahan kritis dengan lahan potensial,perbedaan lahan potensial dan kritis beserta contohnya
Perbedaan Lahan Potensial dengan Lahan Kritis | Wawang Armansyah | 4.5